SOCIAL MEDIA

Monday, October 13, 2014

Book Review: The Maze Runner (The Maze Runner #1) by James Dashner

Penulis: James Dashner
Penerjemah: Yunita Candra
Penerbit: Mizan Fantasi
Tebal: 532
Format: Paperback
Terbit: November, 2011
Harga: *out of print* (BukaBuku)
Rating: 4 / 5 stars

Date started: 5 Oktober, 2014 - Date finished: 12 Oktober, 2014

Sinopsis:
Setiap hari mereka harus berlari. Menyusuri lorong maze yang berkelok-kelok di luar dinding glade, tempat mereka tinggal, hingga senja tiba. Dan, ketika kegelapan turun, para pelari harus sudah ada di dalam glade. Ya, pada saat itulah griever, monster buas dan ganas, tak segan menerkam siapa saja yang masih berkeliaran di dalam maze.
Mereka bukan sekadar berlari. Itu cara mereka bertahan hidup. Dengan berlari mereka berharap menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk itu. Keluar untuk kembali pulang menjumpai keluarga mereka. Namun, lintasan maze selalu berubah-ubah dari hari ke hari. Rasanya, mustahil bisa keluar dari tempat itu.
Suatu hari pintu batu pelindung mereka tak lagi turun menutup. Griever-griever itu bisa menyeruduk masuk kapan saja. Setiap hari, satu anak dibawa pergi dan lenyap. Satu-satunya jalan adalah bergegas keluar dari tempat itu. Namun, mereka harus melewati maze yang membingungkan dengan sejumlah monster mengerikan di sana. Beranikah para pelari lari keluar dengan nyawa sebagai taruhannnya? Atau, akankah justru lebih baik tetap berada di dalam menanti pencabut nyawa sambil berharap mukjizat datang tiba-tiba?
Review:
Sebenarnya, aku ingin sekali menyelesaikan buku ini sebelum menonton filmnya, tapi tak tahu kenapa aku baru bisa menyelesaikan buku ini sekarang dan akupun telah melihat filmnya duluan. Pada saat membacanya pertama kali aku hanya bisa membacanya setengah buku itu dan setengahnya lagi aku tunda terus-menerus sehingga akhirnya aku mulai membaca buku lain yang lebih menarik.
Maze itu adalah sebuah kode, Tom. Maze itu sebuah kode.
Alasan mengapa aku menunda menyelesaikan buku ini adalah karena alurnya yang menurutku buku ini terlalu slow-paced dari awal hingga tengah (yang sekarang aku sadari adalah itu seharusnya hal yang wajar karena si penulis sedang melakukan world-building). Setelah aku melihat filmnya, aku tergugah untuk menyelesaikan bukunya karena ingin mengetahui lebih detil apa yang terjadi sebenarnya.

Setelah menyelesaikan buku ini (barusan saja, fyi) aku langsung tak tahu harus merasa apa. Tapi yang pasti aku merasa bingung karena banyak sekali hal yang berbeda dari buku dengan adaptasi filmnya dan menurutku ada satu aspek penting yang harusnya ada di filmnya tetapi tidak dimasukkan.
Aku heran bagaimana kita bisa melakukan ini, kata Thomas dalam pikirannya. Usahanya mulai berbicara dengan anak perempuan itu mulai terasa berat-kepalanya sakit seolah otaknya membengkak.

Mungkin dulunya kita sepasang kekaksih, sahut Teresa.
Overall, aku menyukai buku ini dan menyesal telah menunda-nunda untuk menyelesaikan buku ini. Ya, memang awal hingga bagian tengahnya a little slow for my taste tapi sisanya hingga akhir sudah mulai fast-paced dan penuh dengan banyak aksi-aksi yang seru. Filmnya pun sama, it's very action-packed dan pada waktu itu aku tidak tahu bahwa ada banyak perbedaan antara buku dan filmnya. But now that I think about it I enjoyed both of it very much dan sudah tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan itu dan lebih penasaran akan kelanjutannya!


© books-over-all ©

1 comment:

  1. Aku malah nggak pernah berhasil menyelesaikan satu pun bukunya. Menurutku, gaya bahasa James Dashner agak awkward, sehingga nggak nyaman buat dibaca. Still, he did a good job on world-building. It's so detailed.

    Soal karakter juga rasanya agak susah buat di-relate. Tapi karena saya nggak selesai baca, mungkin banyak melewatkan character development mereka. Just curious, though, is there any?

    ReplyDelete