Thursday, January 29, 2015

Book Review: 86 by Okky Madasari

Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256
Format: Paperback
Terbit: Maret, 2011
Harga: Rp 10,000 (Obral Gramedia Puri Indah Mall)
Rating: 4 / 5 stars

Date started: 23 Januari, 2015 - Date finished: 26 Januari, 2015

Sinopsis:
Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?
Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.
Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.
Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.
Pokoknya, 86!
Review:
86 adalah sebuah novel fiksi yang mengangkat isu yang selalu hangat di Indonesia, hal yang berhubungan dengan korupsi, suap, dan obat-obatan terlarang ada di buku ini. 86 menceritakan kisah Arimbi, seorang juru ketik yang bekerja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Arimbi adalah seorang perempuan yang terlahir dari desa dan menjadi salah satu warga di desanya yang bisa bekerja di ibukota untuk menjadi seorang pegawai negeri.

Kehidupan Arimbi selama di Jakarta sangat monoton. Setiap jam dia selalu melakukan kegiatan yang sama di saat yang sama juga. Pada tahun-tahun awal dia bekerja di kantornya, dia adalah orang yang tidak mengerti adanya "kekuatan uang" dalam tugas-tugas yang harus dilakukannya, selama ini dia hanya mematuhi perintah atasan.

Pada suatu hari, Arimbi diminta menjadi juru ketik pada sebuah sidang di pengadilan dan pada saat dia pulang ke rumah. Dia mendapati ada orang-orang tidak dikenal datang ke rumahnya mengantarkan AC. Katanya hadiah dari orang yang memenangkan sidang yang diikuti oleh Arimbi. Keesokan harinya dia bertanya kepada temannya Annisa apakah dia juga pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, dan ternyata mendapatkan "jatah" dari orang-orang adalah hal yang lumrah.

Selang beberapa hari kemudian, gang tempat tinggal Arimbi terkena musibah. Rumah pemilik kontrakan yang ditempatinya terbakar sehingga dia harus pindah dari tempat itu karena pemiliknya ingin menempatinya. Dia pun pindah ke sebuah kos-kosan dimana dia bertemu Ananta, seorang lelaki yang nantinya akan menjadi suaminya. Sejak berkenalan dengan Ananta lalu kemudian menikah dengannya Arimbi mulai masuk ke dalam dunia "suap" karena dia sadar bahwa gaji suaminya dan dia yang kecil tidak akan mungkin bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Inilah motivasi Arimbi untuk ikut terjun ke dunia yang gelap ini.
86: Ungkapan 86 awalnya digunakan di kepolisian, yang artinya sudah dibereskan, tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang
Apakah semua akan baik-baik saja bagi Arimbi? Bagaimana kisahnya selanjutnya? Bacalah di buku 86 ini!

Buku ini sangat menarik bagiku karena jarang-jarang menemukan novel Indonesia yang mengangkat isu yang berat seperti ini (atau apa aku yang jarang baca buku berat ya?) Jika mungkin aku tidak ada beban tugas mungkin buku ini bisa selesai sehari saja.

Dilihat dari segi penokohan. Tokoh Arimbi diceritakan dengan baik. Karakternya dibuat berkembang sesuai alur cerita. Arimbi yang awalnya polos, lugu dan tak mau tahu tentang dunia 86 berubah menjadi Arimbi yang haus akan uang, meski dia masih memiliki hati nurani. Terlihat jelas dalam kisah ini Arimbi adalah perempuan yang mencintai keluarganya. Ia juga ambisius sehingga "imannya" goyah oleh godaan uang.

Tetapi kita juga tidak bisa hanya mengkritik segala keputusan Arimbi. Coba kita posisikan diri kita sebagai Arimbi yang atmosfer kantornya saja sudah penuh dengan orang-orang yang mendewakan uang di atas segalanya, mungkin kita juga bisa saja tergoda sepertinya. Memang uang-lah yang bisa menentukan seperti apa diri kita sebenarnya. Memilih kejujuran atau mengikuti nafsu kita?


Menurutku buku ini lebih seperti pelajaran anti korupsi yang dikemas dalam sebuah cerita fiksi. It's a great cautionary tale. Semua hal yang dimuat dibuku ini membuatku berfikir apakah semua orang di Indonesia bisa dibeli dengan uang? Aku jadi teringat perkataan dosen anti korupsi bahwa semua hal di Indonesia itu mudah jika ada uang pelancarnya. Mungkin itu benar, tapi aku yakin tidak semua transaksi bisnis di negara ini seperti itu. There are still good guys out there.

Aku juga merasa, buku ini memiliki pesan moral yang sangat jelas bahwa kebebasan dari belenggu (dalam hal ini belenggu finansial) tidak dapat diraih secara instan. Kebebasan adalah proses yang harus diraih dengan cara yang valid, tidak ada jalan pintas menuju kebebasan. We must fight for it and work for it.

Terakhir, saya merekomendasikan semua orang untuk membaca buku ini terutama orang-orang yang menyukai isu-isu berat. Tapi ingat, novel ini adalah novel dewasa jadi tolong yang masih di bawah umur untuk tidak membaca novel ini. Bagi orang yang ingin membaca buku ini aku yakinkan bahwa cerita di buku ini sangat menarik untuk dibaca dan anda tidak akan menyesal.

© books-over-all ©

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...