Monday, December 28, 2015

Book Review: Perfect Pain by Anggun Prameswari

Judul: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 324
Format: Paperback
Terbit: November, 2015
Harga: Rp50.400 (BukaBuku)
Rating: 4 / 5 stars

Date started: 17 Desember, 2015 - Date finished: 21 Desember, 2015

Sinopsis:
Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai. 

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai. 

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.
This review is posted for December's Baca Bareng BBI 2015 "Baca Bareng 1 Judul"
Review:
Bidari adalah istri dari Bramawira Aksana, mereka memiliki anak bernama Karel yang seorang murid kelas 6 SD. Mungkin dari luar tidak terlihat berbeda dari pernikahan yang lain tapi di balik pintu tertutup Bidari atau biasa dipanggil Bi adalah korban KDRT dari suaminya sendiri. Segala kesalahan mau itu besar atau kecil pasti akan berakibat buruk bagi Bi, dia dianggap istri paling tidak becus oleh suaminya itu. Hampir tiap hari Bi akan disiksa oleh suaminya dan setelah itu suaminya akan meminta maaf walaupun ironisnya pada keesokan hari dia akan melakukannya lagi. Sayangnya lagi, Bi selalu takut untuk meninggalkan suaminya tersebut.

Pada suatu hari, guru di sekolah Karel, Miss Elena menelepon Bi menanyakan keberadaan Karel. Telepon ini membuat Bi panik karena dia yakin Karel ada di sekolah. Tak lama kemudian, kepanikan itu menghilang setelah keberadaan Karel akhirnya diketahui. Ternyata, Karel ada di sebuah kantor pengacara tempat pacar Miss Elena bekerja, Sindhu Sudiro. Sewaktu Bi sampai disana dan mengajak Karel pulang dia menolaknya dan secara tidak sengaja mengatakan bahwa jika mereka pulang papanya akan memukul Bi. Setelah mendengar ini, Sindhu yang merupakan pengacara yang biasa mengatasi kasus-kasus perceraian terutama karena KDRT mulai beraksi, dia langsung ingin melindungi Bi. Bi sendiri menolak bantuan apapun dari Sindhu dan bersikeras bahwa semua baik-baik saja.

Setelah pertemuan itu kejadian di rumah malah semakin memburuk, tidak cukup dengan menyiksa Bi suaminya juga menyiksa Karel, kejadian ini yang membuat Bi akhirnya melarikan diri dari rumah. Saat melarikan diri ini Bi ditampung di apartemen Sindhu untuk sementara. Sindhu sendiri memaksa Bi untuk segera menceraikan Bram. Disinilah Bi mengalami konflik batin, apa hidupnya akan lebih baik tanpa Bram? apakah dia bisa hidup tanpa Bram? apakah berpisah keputusan yang benar untuknya dan Karel? Di atas semua kegalauannya, Bi juga mulai tertarik pada sosok Sindhu yang jauh berbeda dari Bram.
"Setiap orang punya masa lalu, Bi. Hati manusia itu persis koper besar. Terus-terusan dijejali kenangan buruk, emosi negatif, rasa marah, semuanya. Makanya jadi berat. Susah dibawa kemana-mana, jadinya teronggok begitu saja. Biar enteng, Bi, kita harus membuang semua yang memberatkan. Itu proses yang terus berjalan, nggak boleh berhenti."
Aku harus jujur bahwa pada awalnya aku tidak berniat untuk mengikuti event BBI yang satu ini karena satu alasan: Aku tidak memiliki buku yang dijadikan bahan Baca Bareng BBI pada bulan Desember 2015 ini. Tetapi pada saat aku mampir ke Gramedia, rasanya kurang pas apabila pulang dengan tidak membeli buku apapun (meskipun ada banyak sekali timbunan di rumah). Jadi, pada akhirnya aku memutuskan untuk membeli buku ini (setelah mengambil-mengembalikannya-mengambil-mengembalikannya dan akhirnya mengambilnya) karena satu alasan juga: Buku ini jadi bahan bacaan di Baca Bareng BBI. Alasan itulah yang mendorong tanganku (dan kakiku) untuk ke meja kasir dan membawa pulang buku ini. Oke, intro yang emang agak kurang penting tapi yah memang harus diceritakan karena ternyata uangku tidak habis sia-sia untuk buku ini.

Perfect Pain adalah buku karya Anggun Prameswari pertama yang aku baca. Sebelumnya memang penulis ini memiliki buku lain, yaitu After Rain. Sebelum mulai membaca aku menyempatkan diri untuk membaca bagian profil penulis dan melihat bahwa si penulis senang menulis roman depresi. Setelah membaca buku ini aku bisa meyakinkan kalian bahwa Anggun Prameswari adalah penulis roman depresi yang sangat bagus. 

Novel yang mengambil topik utama KDRT ini sangat terasa depresinya, kelamnya, gelapnya, sakitnya pun ikut terasa. Dari bagian awal-awal saja kita sudah dihadapkan dengan adegan-adegan KDRT yang membuat kita bertanya "Apakah emang se-sadis itukah para pelaku KDRT?" Tentu saja tidak perlu diragukan tentang kemahiran menulis Anggun Prameswari, bagiku yang baru membacanya saja sekarang jadi ingin membaca karyanya sebelumnya.
"Bi, berbagi cerita adalah salah satu upaya untuk memperoleh kesadaran. Perspektif tentang apa yang kita alami sesungguhnya. Dengan bercerita, kita bisa mengurangi beban pikiran. Dengan bercerita, kita bisa menyampaikan ganjalan di dalam hati. Percaya tidak percaya, Bi, dengan kamu bercerita, kamu mungkin bisa melihat masalah dengan lebih jelas dan menemukan jalan keluarnya."
Menurutku sendiri, kekuatan si penulis ada di karakter-karakter yang dibuatnya. Karakter yang patut kita benci pasti sebagai pembaca kita akan membencinya, begitu juga untuk karakter yang patut kita sukai. Contohnya adalah Bram dan Bapaknya Bi, mereka berdua adalah dua sosok antagonis yang patut diberikan jari tengah, ditabrak mobil, kemudian dilindas untuk memastikan mereka bener-bener udah mati. Aku tidak bercanda jika aku mengatakan bahwa mereka adalah karakter yang layak dibenci. Bram karena kekerasan yang dia lakukan terhadap istri dan anaknya. Bapaknya Bi karena cara dia membesarkan Bi di lingkungan yang tidak berlandaskan cinta maupun kasih sayang sama sekali. Untuk para protagonis, banyak yang patut disukai seperti Bi (meskipun kadang dia juga bisa sangat menyebalkan dan sangat amat lemah), Karel yang selalu ingin membahagiakan dan melindungi ibunya (cukup dewasa bukan untuk anak kelas 6 SD?). Sindhu yang pasti bakalan disukai para pembaca wanita (tapi bagiku ya sama aja kayak karakter pria sempurna yang di dunia nyata mungkin agak too good to be true).
Ya, sebentar lagi aku akan mati karena rasa sakit ini. I die for my perfect pain.
Satu hal lagi yang membuatku menyukai novel ini adalah penggambaran kegelisahan, ketakutan, ketidakyakinan, atau apapun itulah yang dirasakan oleh Bi. Yang aku maksud adalah semua pikiran yang dipikirkan olehnya, di buku ini ditulis dengan format italic. Semuanya sangat membantu memahami segala kesakitan yang dirasakan oleh Bi, betapa banyaknya beban yang dia bawa selama hidupnya.

Bagi kalian yang mungkin awalnya ragu untuk membaca buku ini, aku sendiri menyarankan kalian untuk membacanya. Jika tidak ingin membeli, pinjamlah sama teman, pinjam punyaku juga boleh yang penting baca. Buat kalian-kalian yang belum nikah, ini bisa jadi contoh gimana kita harus memperlakukan lawan jenis kita nanti. Buat kalian-kalian yang udah nikah dan mau punya anak, ini bisa jadi contoh apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam mendidik anak nanti. Yah, pokoknya buku ini selain bagus, bisa menambah wawasan juga deh.

© books-over-all ©

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...